Menghitung pajak penghasilan karyawan terkadang membuat pemilik usaha dan staf keuangan bingung. Padahal, perusahaan perlu menghitung potongan gaji dengan benar agar administrasi pajak tetap tertib. Nah, jika Anda ingin memahami contoh perhitungan PPh 21, Anda perlu mengetahui dasar penghitungan, status Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dan tarif yang berlaku. Dengan contoh sederhana, Anda bisa memahami cara menghitung potongan pajak bulanan karyawan.
Apa Itu Pajak PPh 21?
PPh 21 merupakan pajak atas penghasilan yang diterima orang pribadi dari pekerjaan, jasa, atau kegiatan tertentu. Perusahaan perlu memahami dasar penghitungan dan tarif yang berlaku agar dapat mengelola pemotongan pajak karyawan dengan tepat. Untuk memahami langkah penghitungan beserta contoh kasusnya, baca panduan contoh perhitungan pajak PPh 21 sebagai referensi dalam mengelola administrasi perpajakan.
Contoh Perhitungan PPh 21 Karyawan
Mari kita gunakan contoh sederhana. Andi bekerja sebagai karyawan tetap dengan gaji bruto Rp8.000.000 per bulan. Ia berstatus tidak kawin tanpa tanggungan atau TK/0. Untuk simulasi ini, kita menggunakan tarif efektif bulanan kategori A sebesar 1,5%.
Berikut cara menghitungnya:
PPh 21 = Penghasilan Bruto × Tarif Efektif
Rp8.000.000 × 1,5% = Rp120.000
Jadi, potongan PPh 21 Andi pada bulan tersebut sebesar Rp120.000. Setelah potongan PPh 21, gajinya menjadi Rp7.880.000, dengan asumsi tidak ada potongan lainnya.
Namun, angka tersebut hanya menggambarkan bulan biasa, bukan otomatis menjadi jumlah pajak final setahun. Pada masa pajak terakhir, biasanya bulan Desember atau bulan terakhir ketika karyawan berhenti bekerja, perusahaan menghitung kembali PPh 21 berdasarkan penghasilan setahun dan pajak yang sudah dipotong sebelumnya.