Mengenai Kapan Nikah, dari Keputusan Rasional ataukah Perasaan? (Update)


Anu, saat ini masihlah situasi tahun baru ndak? Masihlah ya? Masihlah saja deh. Soalnya, tulisan ini semestinya terbit sebelumnya atau cocok tahun baru. Berhubung repot ngepak ini ngepak itu untuk kepentingan mudik dan mengawur-awur tunjangan untuk sanak-saudara, apalah daya pada akhirnya baru terbit saat ini. 

Mengenai Kapan Nikah, dari Keputusan Rasional ataukah Persaan?

Serta seperti umumnya ritual tahunan di kampung, pertanyaan yg seringkali jadi kajian di media-media sosial sekitar tahun baru yaitu pertanyaan “kapan kawin? ” yg datengnya macem acara undangan pdkt-an. Telah disangka, namun tetep saja membuat kaget. Jadi dari pada itu, saya ingin narasi sekitar masalah kawin-kawinan. Terlebih yg namanya usia nanggung. 

Mengapa dimaksud usia nanggung? Lantaran begini : 

Saat seseorang lelaki mulai masuk usia 25, kehidupan karier kerjaannya mulai stabil, wajarnya (pengecualian buat mereka-mereka yg belum lulus kuliah atau masihlah bingung mencari kerjaan walau umur telah merambat tua). Duitnya mulai banyak. Jadi bolehlah dimaklumi dan disetujui untuk memberi jam nakalnya satu tahun atau bahkan lebih lagi. Kan sesudah statusnya yg ke mana-mana asalkan suka tiada orang yg melarang, si bujangan juga sebaiknya merasakan nikmatnya hati senang walaupun tak punya uang. 


Masak baru merasakan seneng sak’ crit telah segera diminta mikir serta nanggung hidupnya anak perempuannya orang? Kapan, dong, kami-kami ini bisa pongah nikmati hasil keringat kami sendiri dengan cara systematis, terstruktur serta masif? Nikah? Ya kelak dululah itu! 

Jadi kesimpulannya, yg namanya nikah baiknya memanglah sesudah melalui 28 saja buat yg telah terlanjur masuk usia nanggung. Silahkan nikmati dahulu itu uang kalian hingga muntah-muntah, hingga senang, hingga kapok, lantaran ya semestinya bila kalian memanglah ingin nikah, nikahlah sebelumnya kalian usia 28. 

Agar apa? Agar waktu kalian mengawali berumah-tangga dengan anak wanita orang, kalian dapat alami suka-dukanya berbarengan. Miskin dijalani bareng, suka dijalani bareng, agar semakin sip chemistry-nya. Janganlah waktu tengah euforia miliki uang banyak, tahu-tahu masuklah sikon dimana kalian diminta nahan nafsu kepengen ini-itu dikarenakan terbentur hasrat menutupi cost rumah tangga. Khawatirnya kelak yg ada kalian jadi rada kecewa. 

Itu menurut si Deden, sih. Sesaat bila menurut saya ya terserah Anda. Yg kawin di usia nanggung ya situ, yg umpamanya kelak seneng yg merasakan situ juga, jikalau kelak kecewa ya juga tanggungannya situ, jadi apa masalahnya dengan beta? 

Serta bicara mengenai permasalahan kawin-kawinan, kapan hari Teh Dewi (tentu saja nama yang disamarkan), ipar saya sempat narasi mengenai rekannya tengah dilanda gundah gulana sekitar kawin-kawinan dikarenakan tingkah seseorang pejantan. Dalam soal ini marilah kita sebut rekan Teh Dewi sebagai Julia, sesaat lakinya bernama Sukirman. 

Konon, kata Teh Dewi, Sukirman serta Julia ini telah dekat demikian lama. Lantaran terasa dikejar umur, satu saat Sukirman ajukan pertanyaan pada Julia, ingin tidak jadi istrinya? 

Namun si Jul ini (lagi kata Teh Dewi) jadi umumnya dalih. Ngeles sana, mlipir sini, yg sayangnya hanya buat jaga gengsi doang. Ditambah bekal statusnya yg karyawan anyar satu bank internesyenel, Jul menampik Sukirman. “Nggak, ah, ” sekian tuturnya saat di ajak Sukirman buat indekost indehoy dengan cara halal. 

Konon (masihlah juga menurut Teh Dewi) sesudah momen itu Sukirman hilang bak ditelan bumi. Julia yg di depan Sukirman bertandingk menampik namun di depan bapak-ibunya jadi mengumbar narasi bahagia bila habis di ajak nikah oleh sang lelaki idola, sudah pasti kelabakan bukanlah buatan. Namun Sukirman betul-betul tidak ada pernah menghubunginya lagi. Tak tahu, ada apakah kiranya hanya Sukirman serta Tuhan yg tahu. 

Sesudah selang sebagian lama (lagi-lagi ini kata Teh Dewi) mendadak datanglah satu amplop ke pangkuan Julia. Sayangnya ini bukanlah amplop sembarang amplop. Ini amplop sakti, atau lebih spesifiknya lagi amplop diisi undangan pernikahan. 
Secara singkat, isi amplop itu menyampaikan kabar Sukirman menikah. Iya, Sukirman nikah! Nikah sama gadis lain. Nikah sama gadis yg ingin mengiyakan ajakannya untuk menikah. 

Lantas bagaimana Julia? 
Ealah.. telah pasti remuk-redam relung hatinya. Teh Dewi juga dicurhatinya. Kampretnya, Teh Dewi sungguh bukanlah tanggapan sewajarnya wanita saat sejawatnya tengah dilanda duka. Tanggapan si Teteh yaitu : “Salah sendiri. Siapa suruh jual mahal? ” 

Ke-2, mengenai rekan saya selanjutnya. Single, karier bagus, uang mbrebes, rumah telah miliki di bilangan pinggir kota namun ya tidak pinggiran banget, sih. Singkat narasi dia telah miliki semua, terkecuali istri. 


Satu waktu.. oh ya, rekanku ini namanya joko tingkir. Sudah pasti ini nama nama yang disamarkan akibat terlalu pasaran kali yah, tapi bukanlah seperti nama korban pemerkosaan. Untuk menyamarkan beliau dalam tulisan ini, kita sebut sahaja joko kalau siang hari dan joko tingkir kalau malam hari. 

Satu waktu Tole bernarasi kepada beta, dia kepengen memiliki pasangan yg siap di ajak serius kurun waktu dekat. Saya yg nyaris setiap hari jadi asbak curhatannya segera heran, “Lho itu masalah yg Cinta Lama Belum Kelar itu njuk bagaimana ceritanya, Le? ” bertanya saya. 

“Aih.. wis talah. Itu telah tidak utama. Saat ini yg utama memiliki calon istri orang sini jg, yg dapat dekat sama orangtuaku, sama siap di ajak serius kurun waktu dekat, ” jawab joko. 

Pertimbangan joko mengapa mesti orang dekat dari daerahnya, ya lantaran joko juga serta orangtuanya ada di situ. “Biar tidak repot. Toh mungkin saja saya pasti akan pulang ke daerah sendiri. Puyeng lama-lama hidup di kota bak pinggiran ini! ” 

Segera ta’ sodorkan sebagian nama sesuai sama kriterianya dari lingkaran pertemananku. Maklumlah, saya kan, bekas PR di perbisnisan yang halal dan gaul, jadi ya perkara biodata-biodata wanita satu partner atau relasi perusahaan terang masalah mudah sahaja. 

Sesudah memilih, menimbang serta mengambil keputusan, sampailah selanjutnya di pintu gerbang kemerdekaan Tole mengambil keputusan pilihan wanita mana yg akan dia incar. “Nah, benar! Ini saja bro. Sepertinya memanglah ini yg paling rasional buat dijadikan istri, ” kata Tole sumringah selanjutnya. 

Selesai tapi belum tamat.. 


Jadi, hadirin sidang sekalian, sesudah 2 type narasi saya diatas, jadi apa rangkuman yg dapat diperoleh dari tulisan kesempatan ini? 

jawabannya adalah Tidak ada. 

Aslinya memanglah tidak ada. 
Iya, tidak ada, terkecuali saya malah jadi jadi cemas sama diri saya sendiri. Telah sangat banyak lihat di sekitar, mengenai menyelenggarakan jalinan pernikahan sebagai satu ketentuan yg lebih dilandasi oleh rasio daripada perasaan. 

Yahh.. walau beberapa orang di kampung halaman masihlah pada sukai katakan bila witing tresno jalaran soko kulino, atau tumbuhnya cinta itu lantaran punya kebiasaan, namun saya, kok, ya tetaplah ngerasa agak bagaimana gitu ya... 

Cemas bila besok nyatanya saya mengambil keputusan menikah juga lantaran argumen yg rasional (dalam soal ini sejenis dikejar usia, mungkin) bukanlah lantaran perasaan. Rasa-rasanya, menikah dengan seorang tanpa ada didahului oleh roman naksir-naksiran, kok rasa-rasanya agak kurang greget ya? Gimana gitu loh. Yang pastinya sy masih tetap mencari alias masih ngejomblo, yg penting gak ngejomblo selamanya. Heuheuheuheu. 


Jika Anda Ingin Curhat Atau Punya Tulisan Yang Menarik Untuk Di Publish Di Website Ini, Silahkan Kirim Ke boys.madil@gmail.com

0 Response to "Mengenai Kapan Nikah, dari Keputusan Rasional ataukah Perasaan? (Update)"

Posting Komentar