Ngerasa Difitnah Dari Menjadikan Objek Pelarian dan Melarikan -Cintalah yang Menjadi Tersangka Utama


Ngerasa Difitnah Dari Menjadikan Objek Pelarian dan Melarikan - Cintalah yang Menjadi Tersangka Utama. Mungkin anda harus butuh IQ yang cukup untuk memahami arti tulisan ini sepenuhnya. Jadi, let's be smart yah.

Entah Kenapa dan bagaimana Saya gemar sekali mencatat hal dan peristiwa euforia ataupun dysphoria yang pernah saya alami. Bukan untuk disiarkan kepada sebanyak-banyaknya orang kemudian jadi ajang pamer bahwa saya pernah bahagia senang tiada kepalang, namun untuk pengingat. Pengingat bahwa hidup saya tak melulu berisi hal-hal buruk yang bikin saya merasa sebagai orang paling sial sedunia. Atau bukan pula berisi hal-hal yang menyenangkan sehingga lupa akan kepedihan.

Jika sampeyan setuju, marilah kita gelar tikar tausyiah ini dengan menjajal berbuka hati bebarengan. Ayo, ayo. Gelar tikar. Yang jauh mendekat, yang mendekat merapat. Mari rapatkan barisan Anak Muda.
Ngerasa Difitnah Dari Menjadikan Objek Pelarian dan Melarikan -Cintalah yang Menjadi Tersangka Utama
Well, gini loh. Mencatat itu adalah pekerjaan mengingat kembali, betul tidak?. Setelah mencatat ini, apabila dikemudian hari ingatan ini tak lagi mengingat euforia yang pernah ku alami entah itu suatu kecelakaan atau ingatan dimakan usia senja. Maka, Setelah mencatat ini (lagi), saya jadi ingat bahwa saya pernah mengalami ini dan patut saya syukuri. Bukan hal tabu lagi ketika hal masa tua menjemput ingatan yang sudah keropos. Mengingat kadang masa muda saya mengalami yang namanya Pikun. Terdengar klise memang, tapi saat kau tahu kau pernah merasa baik-baik saja, maka keyakinan menjadi baik-baik saja di kemudian hari akan tumbuh dengan sendirinya. Setidaknya ini bekerja pada saya yang nantinya apakah betul akan ingatan ini akan melupakan semuanya lalu muncul, dan mengingat kembali.

Kebosanan. Ini yang menjangkiti akhir-akhir ini semenjak datangnya idul fitri akhir ini, ini penting saya jelasin. Mungkinkah saya juga ketularan dengan salah seorang gadis yang memang sering merasakan kebosanan. Pertemuan yang singkat memang, tapi entah kenapa bosan pula menjadi to be right yang ada pada  diriku sekarang ini. Yang ada hanya memaki diriku sendiri “apa ada yang salah dengan dunia ini?”.

Walaupun ternyata akhir-akhir ini merasakan kebosanan, maka bukan berarti menulis menjadi terasa membosankan. Malahan akan menjadi aroma pemuliahan sepanjang rasa bosan menghampiri. Believe that bahwa itu akan menjadi the one friend in my life.

Mengingat dari bosan-membosankan, maka muncullah di benakku akan cerita dan kisah seseorang yang akan menjadi bincang-bincang pada kali ini. Dan sebagaimana dijelaskan sesuai judul diatas, ini mengenai pelarian dan melarikan. Dimana pelarian itu adalah suatu objek dan melarikan itu pula adalah objek (juga). Owalah, lalu subjeknya siapa dong. Ya itu, “Cinta”.

Dan lagi-lagi cinta-lah yang menjadi tersangka utama dan korbannya adalah si objek sendiri. Entah apa dan bagaimana asalnya si objek ini menjadi topik utama dalam bincang-bincang pada kali ini.

Sebutlah merek dagang seseorang ini adalah Mr. J. Yang bisa diartikan bahwa Mr. J ini adalah pengganti Mr. M. Tapi walaupun begitu Mr. M mungkin bukanlah Mr. J. Ah, tau ah. Pusing pala gue mikirinnya. Yang intinya aja begini Mr. J ini adalah sahabatan dengan Mr. M. Tapi walaupun begitu Mr. J adalah Bagian dari Mr. M. Syahdaaan, lagi-lagi begini.

Yo wess, next and start here again. Jadi begini, pernah nggak kalian merasakan cinta yang luar biasa hilang karena kamu merasa kurang, ya itu hilang darimu dan bukan bohongan, mungkin karena kekurangan pada diri-mu menjadikan ini menjadi hal yang buruk sehingga hilang ditelan ombak samudera pasifik. Seperti inilah yang dirasakan Mr. J.

Maka seketika Mr. J ini membuka hati pada sang lawan jenis barunya. Tapi entah kenapa malah dikatakan hanya ingin melarikan kepada pelarian itu. Dan akhirnya Mr. J mendapati bahwa tersangka utamanya bukanlah Cinta. Melainkan sang lawan jenis barunya inilah yang menjadi tersangka utamanya.

Bagaimana tidak, orang yang dirasa ini mengubah semangatnya dari nge-drop menjadi nge-spirit and nge-hits. Malah di fitnah yang katanya hanya pelariannya doang. Gak jelas dan gak bermakna, lagi-lagi si objek pelarian dan melarikan inilah yang harus dihilangkan.

Sebut saja namanya Cahyani (nama samaran). Perkenalan mereka bisalah dihitung dengan pertanggalan jari. Tapi yakinlah dan benar adanya apa yang dirasakan Mr. J ini sebelumnya tidak pernah dirasakan kepada selain cahyani. Perkenalan sesingkat mungkin menjadikan perasaannya diliputi kegelisahan tentang seperti merasakan yang namanya DeJa Vu. Entah apa pula arti DeJa Vu itu yang katanya bahwasanya orang pernah mengalami di masa lain. Apakah karena seseorang benar-benar adanya reinkarnasi? Ah, tapi tidak mungkin adanya seperti itu.

Perkenalannya dengan Cahyani, membuat dirinya menemuai hal-hal yang baru dan sikap yang baru, kini apa yang dirasakannya memang terasa aneh bagi dirinya sendiri.

Dalam Urusan Cinta, memanglah si Mr. J ini terlalu kaku dan kurang romantisme. Tapi bukanlah seperti itu alasannya melihat cahyani apa yang diandalkan dari Mr. J. Cahyani sudah semestinya berhati-hati dalam memilih apa yang dicintainya mengingat cahyani sudah 6 kali terlatih untuk patah hati. Sehingga hatinya bagaikan baja untuk sakit hati.

Tapi walaupun begitu, Si Mr. J bukanlah seperti dibayangkan oleh cahyani yang katanya dirinya hanyalah melarikan dari yang lalu dan cahyani hanyalah sebagai pelariannya doang. Bukan seperti itu, bukan seperti yang ada dalam pikiran cahyani. Melainkan harapan Mr. J menjadi The Right yang ke-7 bagi cahyani. Angka yang pantastis memang, mengingat hari kemerdekaan kita berada pada angka 7 yaitu 70 tahun. Dan sebagaimana mestinya cahyani merupakan anak bungsu yang bersampingan dengan Mr. J yang merupakan si bungsu pula. Well, suatu hal yang direncanakan mungkin oleh Tuhan Semesta alam mengenai angka-angka ini.

Tapi apa daya dikata semua berubah ketika negara api menyerang. Ketika cahyani terlalu paranoid merasa bahwa dirinya hanyalah pelarian oleh Mr. J. Masa lalu yang kini dilupakannya justru menjadi fitnahan bagi Mr. J. Well sekarang Masa lalulah yang menjadi tersangka utama pada paragraf ini. Bagaimana tidak, masa lalulah menjadi kekhawatiran oleh cahyani. Melainkan cahyani hanyalah terlalu melebih-lebihkan permasalahannya. Jadi, jadi apa? Cahyani sekarang tidak percaya lagi kepada Mr. J.

Medali The right Person yang diberikan oleh Mr. J kepada Cahyani, kini telah pupus sudah diterjang ombak kesalah-pahaman. Maka tatkala Mr. J ingin menjelaskan kesalah-pahamannya, kini cahyani sudah tidak percaya lagi kepadanya.

Lagi-lagi, ini menjadi sebuah ironi, ironi ketika cerita berujung tandus. Tapi semua itu punya hikmah. Jika kita hidup dalam lautan udara, maka janganlah membiarkan potret sejarah menjadi rundung duka mendalam. Melupakan sebuah kenangan janganlah terjadi, mungkin peristiwa oleh cahyani dan Mr. J adalah sebuah kenangan bahwasanya jalan terbaik sudah akan muncul di depan kita. Setidaknya itulah yang dipikirkan sekarang oleh Mr. J.

Mungkin pula apa yang dirasakan oleh Mr. J terlalu mendoktrin dirinya tentang harapan lebih yang diberikan  kepada cahyani, apakah Mr. J ini adalah hanya orang bodoh yang menjadi korban cinta-cintaan?.

Jadi, setelah mengalami semua ini. Mungkinlah seharusnya Mr. J akan merubah kembali prinsip hidupnya untuk menjadi lebih baik lagi. Dan menerima dunia ini menjadi pencahayaan baginya. Hidup ini tidak seperti yang kita inginkan, betul tidak? Betuuul? Iyalah betul adanya.

Setelah Membaca, menelisik dan mengkaji. Apa yang di jalani oleh Mr. J sebagai korban Cinta-cintaan. Maka sepantasnyalah kita juga memahami peristiwa-peristiwa penting yang terjadi kepada hidup kita. maka pastilah kalian akan mengerti fungsinya kaki akan berdiri, karena ku yakin kau yakin makna keringat dalam batin. Ketika kamu mengalami masalah maka dunia ini bukanlah it’s not a goodbye. Believe that for tomorrow, we will be happy.

Alih-alih memikirkan Mr. J yang selalu menjadi korban cinta-cintaan. Kemudian saya berpikir, kenapa toh saya tidak menjalani aktifitas yang tidak seperti biasanya saya lakukan sebelumnya. Usia 22 tahun dengan karir yang belum jelas, lajang, dan butuh asupan nutrisi semangat sehingga membuat diri saya ini tetap menjadi orang waras.

Maka daripada itu izinkan saya menceritakan sedikit rutinitas saya sehari-hari.

Makan angin.

Ini bukanlah seperti rutinitas makan dengan menggunakan sendok dan garpu, melainkan dari peribahasa malaysia yang punya arti dari “jalan-jalan”. Rutinitas menjadi seorang direktur (masih ngimpi di siang bolong) bikin saya cepat lelah. Segalanya seolah berlari. Entah apa yang sedang ku kejar. dengan seonggok kamera berkapasitas sedang MP, memotret rileks, enjoy, the santai pemandangan alam.

Tidak terburu-buru adalah hal menyenangkan yang jarang saya temui akhir-akhir ini. Setiap punya kesempatan untuk ‘makan angin’. Langsung deh, on the way.

Menemukan orang-orang asing. Mendatangi tempat-tempat baru. Maka sana, kini aku akan menemui diri sendiri yang lain. Well, tentunya saya nggak akan lupa untuk menjepret momen-momen yang terjadi – memotret juga termasuk dalam bagian dari mencatat kan?. Sebuah potret adalah catatan yang mampu merekam apa yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata.

Musik.

Saya sebenarnya bukanlah orang yang gemar mendengarkan musik. Tapi akhir ini Walaupun semuanya bukanlah finish the game. Saya sering dan senang berlama-lama dalam kamar hanya untuk mendengarkan musik kegemaranku. Buat saya, musik adalah teman yang baik. Mendengar musik setara dengan mendapatkan senyuman, pelukan, dan tamparan sekaligus.

Makan.

Jadi, saya ini omnivora atau pemakan segalanya. Apapun makanan boleh saya makan yang penting halal. Nggak ada namanya pantangan, yang penting enak di lidah. Kadang melancong makanan telah menjadi rutinitas setiap mingguan sekali atau mungkin dua kali atau juga banyak kali. Gak teringat seberapa banyaknya pencong-pelancong makanan seperti saya yang menghabiskan masa perjalanannya mencari yang berguna bagi dirinya. Ya, manusia memang konyol kehidupannya. Mengingat makan-memakan, maka makanan yang paling ku sukai adalah nasi goreng juga bakso. Ehm, jadi pengen makan jadinya.

**********Belum Selesai**********

Ya, jadi, lalu sekarang apa yang akan kamu dapatkan dari hasil curhatan ini wahai kisanak?. Apakah Rasa ingin cinta pada seseorang juga?. Tapi ingatlah wahai kisanak, saat kamu mencintai seseorang, harapan atas kebaikan dirinya terus berdatangan. Kamu akan terus berharap dia hidup tenang, makan kenyang, hingga menginginkan agar dia setia dan tidak berpaling ke lain hati. Dan hanya berada pada dirimu semata. Ingatlah cinta itu ibarat piramida, semakin kau kekang maka semakin besar pula pengorbanan yang kamu perjuangkan.

Aku bukanlah orang yang saleh dan alim akan cinta, tapi etika-ku tentang arti cinta membawaku kepada hidup yang terarah dan kuat. Jangan sampai kamu menjadi orang yang durjana wahai anak muda!.

Lalu pertanyaannya gini, apakah kamu pernah merasakan yang namanya cinta pada pandangan pertama? bagaimana jika kamu sendiri yang merasakan ini?. Mungkin inilah yang harus kamu pikirkan sesuai dengan tema curhat kali ini.

Saat ternyata situasi berubah, apa yang akan kamu lakukan sekarang kisanak? Apakah kamu akan melupakannya?. Impossible bagi anak satu ini. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat di beli di Toko. Melainkan sesuatu hal yang sukar untuk dipikirkan bagi setiap insan yang mengalaminya.

Well, tinggal bagaimana kamu memahaminya kisanak. Bye.


Jika Anda Ingin Curhat Atau Punya Tulisan Yang Menarik Untuk Di Publish Di Website Ini, Silahkan Kirim Ke boys.madil@gmail.com

2 Responses to "Ngerasa Difitnah Dari Menjadikan Objek Pelarian dan Melarikan -Cintalah yang Menjadi Tersangka Utama"

  1. syadaaap. karya tulis yg begitu nikmat dibaca. terasa terbawa suasana

    BalasHapus
  2. emang si bagi orng yg gak punya IQ cukup. gk akan mngerti isinya.
    ini karya yg mnarik.

    BalasHapus