Jangan Nikah Kalau Umur Sudah Nanggung - Ini Curhatan Gue



Jangan Nikah Kalau Umur Sudah Nanggung - Ini Curhatan Gue, Gini loh mas dan mba’ sekalian, aku tuh punya cerita yang lumayan greget banget seputar pengalaman mencari arti kata yang selama ini menjadi problem dalam kehidupan karir dan kesuksesan seseorang. Baiklah kita mulai dari nol ya pak/bu?

Jangan Nikah Kalau Umur Sudah Nanggung

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttttttttt, Sensoring phrase. beberapa kalimat telah dihapus.

Dalam semangat gue mencari apa itu kawin-kawinan dan nikah nanggung, gue banyak melakukan perjalanan sekedar hanya mencari arti nikah dan arti nikah nanggung. Hingga akhirnya pengalaman gue terlalu banyak melihat di sekeliling tentang hubungan pernikahan baik yang berlangsung bahagia di awal dan susah di akhir hingga bahagia selamanya.

Bapak Sapri, Om sahabat gue.  Orangnya katro sekatro penampilannya dengan tangan dan kalung dibalut perhiasan batu akik yang menggunung. Beliau bersabda layaknya seorang tetua kurang terkenal “Udah besar le, bojo mu kuwi?”. Yang pada waktu itu gue gak ngerti apa yang dikatakannya. Tapi menurut sahabat gue pertanyaan beliau itu perihal kawin-kawinan. Sang tetua bersabda lagi “udah bisa nikah le, nikahlah sebelum umur kelewat nanggung

Begitu sabda beliau.

Kalau gue pikir-pikir, gue udah beberapa kali ngedapatin yang namanya umur nanggung. Dan menurut beberapa sumber yang gue dapatkan bahwa “manusia boleh nikah yang baik mulai dari umur 20-an sampai 25 termasuk umur awal baik, dan usia 25-an sampai 30 tahun termasuk udah nanggung, serta umur diatas 30-an sudah termasuk kelewat nanggung”.

Mengingat beberapa Menit lagi gue akan merasakan usia 22 tahun semenjak terbitnya tulisan ini.  Jadi kalau diperhitungkan beberapa tahun lagi gue akan masuk dalam ranah usia nanggung walaupun lumayan masih cukup untuk menunggu. Menurut sumber yang yang telah diterangkan di atas bahwa umur nanggung itu ada di kisaran 25-30 tahun.

Kenapa disebut umur nanggung ? (Lanjut Bapak Sapri) Karena begini:

Waktu seorang lelaki mulai masuk umur 25, kehidupan karir kerjaannya mulai stabil, normalnya (pengecualian buat mereka-mereka yang belum lulus kuliah atau masih bingung cari kerjaan meski usia sudah merambat tua). Duitnya mulai banyak ya bagi yang beruntung. Maka bagi mereka ada yang sebagian berpikir bahwa: bolehlah kami-kami ini dimaklumi serta direstui untuk menambah jam nakalnya beberapa tahun lagi. Kan setelah statusnya yang ke mana-mana asalkan suka tiada orang yang melarang, si bujangan juga haruslah ngerasain enaknya hati senang walaupun tak punya sambil bergelimang uang ooowwooow.

Mereka akan berpikir lebih lanjut lagi: Masak baru ngerasain seneng sak’ crit sudah langsung disuruh mikir dan nanggung hidupnya anak perempuannya orang? Why, Kapan dong, kami-kami ini boleh pongah ongkang kaki menikmati hasil keringat kami sendiri secara sistematis, terstruktur dan masif? Nikah? Ya nanti dululah itu!

Jadi kesimpulannya, mereka yang masih buntu belum merasakan masa nanggungnya yang namanya nikah sebaiknya memang setelah lewat 30 saja buat yang sudah terlanjur masuk umur nanggung. Silakan nikmati dulu itu duit kalian sampai muntah-muntah, sampai puas, sampai kapok berak-berak tak tentu arah asal jupreeeeeeeeet, karena ya seharusnya kalau kalian memang pengen nikah maka nikahlah sebelum kalian umur 30. Begitulah mereka berpikir tentang nikah ketika memasuki umur nanggung. Pada sebagian orang.

Dan lebih baik jika ingin menikah pada masa usia baik-baiknya atau menikah di usia nanggung bisa dipercepat lagi. Supaya, Supaya apa? Supaya saat kalian memulai berumah-tangga dengan anak perempuan orang, kalian bisa mengalami suka-dukanya bersama-sama. Melarat dilakoni bareng, senang dilakoni bareng, biar makin sip chemistry-nya. Jangan saat sedang euforia punya duit banyak, tahu-tahu masuklah sikon di mana kalian disuruh nahan nafsu kepengen ini-itu gara-gara terbentur keinginan menutupi biaya rumah tangga. Khawatirnya nanti yang ada kalian malah rada kecewa. Tutup Sabda Bapak Sapri.

Itu menurut si Bapak Sapri sih. Sementara kalau menurut gue pribadi ya terserah Anda. Yang kawin di umur nanggung ya situ, yang misalnya nanti seneng yang ngerasain situ juga, kalaupun nanti kecewa ya juga tanggungannya situ, maka apa urusannya dengan beta? Beta juga mau nikah dikemudian hari entah di umur nanggung atau di umur baik tapi ini masih nyari.

Mengingat tentang masalah kawin-kawinan, Gue teringat tentang pembicaraan dengan salah satu senior gue pada masa dulu ketika gue masih memiliki status mahasiswa. Sebut saja namanya Kakanda Dadang (nama samaran) yang kebetulan sudah kerja di kampus entah apa jabatannya gue juga kagak tau, kita adalah salah satu partner dalam asisten praktikum. Maklum segala yang berkaitan dengan praktek-praktekan gue paling lincah. Hingga kita bercerita tentang masa lalunya ketika kang Dadang masih pacaran dengan wanita pujaan hatinya yang kebetulan satu kelas dengan dia. Waktu kang Dadang diundang ke rumah pacarnya, mulailah percakapan dengan orang tua si gadis ini “kapan mau lamar anak kami?” entah waktu itu seperti apa dan bagaimana yang dirasakan oleh kang Dadang. Tapi yang pastinya kemungkinan merasakan yang namanya kaget bukan  kepalang. Seingat gue kang Dadang cuman jawab dengan santai  “Ijinkan saya dulu untuk cari kerja sampai saya bisa menafkahi istriku nanti”. Tapi jawaban yang dilontarkan olehnya tidak membuat orang tua si gadis untuk menjodohkannya dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Hingga akhirnya sang gadis menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.

Tapi walaupun sang gadis sudah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, masih sempat pula untuk sekedar menelpon atau sms dengan kang Dadang, entah cinta sang gadis masih belum terlepas kepada kang Dadang. Tapi yang pastinya kang Dadang ingin melepaskan dan mengikhlaskan perjalanan cintanya selama ini bersama sang gadis. “saya sekarang mau berjuang untuk masa depan saya di depan”. Begitu kata kang Dadang menutup pembicaraan kami dengannya.

Dan selanjutnya bicara tentang masalah kawin-kawinan lagi, Suatu waktu di hari yang cerah teman gue yang namanya Sinta (ini baru nama asli, gue udah minta ijin sama dia) bercerita tentang temannya. Yang ternyata temannya teman gue adalah teman gue juga. Sebut saja Namanya adalah Ani. Menurut Sinta yang sempet cerita tentang Ani sedang dirundung gundah gulana seputar kawin-kawinan gegara ulah seorang pejantan tangguh bukan sembarang tangguh. Dalam hal ini sebut saja nama pejantan tangguh itu bernama Roma (tentunya ini nama samaran juga).

Konon lagi-lagi sebelum negara api menyerang, kata neng Sinta, Roma dan Ani ini sudah sekian lama dekat dan makin nempel mirip perangko, hanya saja sebatas teman saja. Karena Roma merasa dikejar usia, suatu ketika Roma bertanya kepada Ani, “Ani, mau nggak jadi istriku?”. Tapi nyatanya si Ani malah kebanyakan dalih cuih. Ngeles sana sini, Kepribin son son, yang sayangnya cuma buat jaga gengsi doang. Ditambah bekal statusnya sebagai anak bapak polisi terkenal di desanya dan disegani banyak orang, Ani menolak Roma. “Nggak, ah. Nggak level, gue mah udah punya yang bikin nyaman gue. Sana jauh.” demikian katanya waktu diajak Roma buat kimpoy secara halal.

Setelah peristiwa memilukan yang dialami oleh Roma, Roma pun hilang bak ditelan bumi dan langit. Bahkan dewa bumi pun nggak tau keberadaan roma. Ani pada waktu itu yang di depan Roma berlagak menolak tapi di depan bapak dan ibunya malah mengumbar cerita bahagia kalau habis diajak nikah oleh sang lelaki pujaan yang selama ini dinanti-nantikan oleh hatinya, tentu saja kelabakan bukan buatan. Tapi nyatanya kabar Roma benar-benar tiada pernah menghubunginya lagi. Entah, ada apakah gerangan cuma Roma dan Tuhan yang tahu.

(Lanjut Sinta bercerita lagi). Selang beberapa lama dan kabar Roma pun tak pernah lagi muncul kepermukaan, dan neng Ani ternyata merasakan kegalauan berkepanjangan karena tidak pernah mendapat kabar dari Roma. Teman dekatnya yang selama ini selalu menemaninya setiap saat dibutuhkan. Maka pada waktu itu mendadak datanglah sebuah amplop ke pangkuan Ani. Sayangnya ini bukan amplop sembarang amplop. Ini amplop sakti mandraguna, atau lebih spesifiknya lagi amplop berisi undangan pernikahan suci. Siapakah gerangan yang akan menikah?

Setelah Dibuka Sreeeeettt, sssyyyyyiiitt wuuuussss prang, isi amplop itu mengabarkan bahwa Roma akan menikah pada tanggal sekian. Iya, Roma, Roma mau nikah! Nikah sama gadis lain. Nikah sama gadis yang mau mengiyakan ajakannya untuk menikah dengan ikhlas. Nikah dengan gadis yang benar-benar tulus menerimanya tanpa gengsi-gengsian memandang status pekerjaan dan juga level.

Lalu, Sekarang apa yang dirasakan Ani ketika melihat isi amplop itu?.

Ibarat balon yang pecah, seperti itulah pengibaratan yang dirasakan Ani. Ya Ealah. sudah tentu hancur meletus redam relung hatinya. Neng Sinta pun dicurhatinya. Tapi Sontoloyo, Neng Sinta sungguh bukan respon sewajarnya perempuan ketika sejawatnya sedang dirundung duka nestapa yang amat sangat. Respon si Neng Sinta (Seperti yang dikatakan Neng Sinta pada waktu itu): “Salah sendiri. Siapa suruh so’ gengsi dan jual mahal. Seandainya dari dulu loe nerima dia. Atau setidak-tidaknya loe meminta maaf atas perkataanmu lalu menerima dia kembali. Nah sekarang kapok nda loe?”. Seperti itulah cerita yang endingnya memilukan bagi Ani tapi membahagiakan bagi Roma.

Selanjutnya. Gue punya teman, teman sepermainan. Dimana dia selalu gak mungkin ada aku. Ya ealah kan cuman teman. Ini sahabat gue tinggalnya di kota palopo, orangnya cukup sibuk sana sini mplipir kemana-mana ningkatin status kekayaan dunia dan akhirat. Masih Single boy, Cowok tulen, karir? bagus, duit? Ngalir deras dan halal 100%, rumah? sudah punya dengan status rumah sendiri yang baru dibuatnya tahun kemarin, apalagi orangnya Sholeh. Alamat? Kasi tau nggak ya? nggak ah.

Singkat cerita dia yang sering curhat sama gue sebagai sahabatnya. Tapi Menurutnya dia sudah punya semuanya, kecuali istri. Iya, Istri. Belum Nikah. Umur Sebentar lagi Udah Mulai Nanggung. Oia, kenalin dulu sahabatku ini namanya Ardi. Nama Lengkapnya Armadi Syahril.

Suatu waktu kang ardi pernah curhat, dia kepengen punya pasangan yang siap diajak serius dalam waktu dekat. Dan kalau bisa bukan seperti mantan dia yang suka hura-hura sana sini sehingga membuat hubungan mereka kandas bak ban mobil ditusuk kulit duren. Saya yang hampir tiap hari jadi baskom curhatannya langsung terheran-heran, “Lho itu urusan Cinta Lama kenapa belum kelar juga le? Udahlah lupain aja, tinggalin aja mereka yang nggak pantas buat loe” kata saya.

walatalah eaah. Itu sudah nggak penting le. Sekarang yang penting punya calon istri yang mau nerima gue apa adanya, bukan ada apanya.” begitulah sabda Ardi.

Setelah ardi melewati masa-masa curhatnya, Langsung ta’ sodorkan beberapa kontak dari lingkaran kenalan gue baik di BBM atau di kontak. Maklumlah karena gue sering sana sini ngikut beberapa training tentang motivator atau tentang bisnis jadinya kenalan gue lumayan.

Setelah memilih, menimbang dan memutuskan, sampailah pada akhirnya penetapan pilihan wanita mana yang hendak dia incar untuk PDKT-an. “Nah, ini ! Ini aja. Gue srek lihatnya, Kayaknya ini yang lebih keibuan buat dijadiin pendamping istri”. Begitulah sabda Ardi yang terhipnotis laksana Mangekyou Sharingan-Nya Uchiha Sasuke melihat pertemanan gue yang cakep-cakep menurutnya. 

Nah ini aja Le. Kenalin gue yah?”. Tunjuk si ardi yang ternyata pilihannya adalah kenalan gue yang waktu aktif di salah satu training pengusaha muslim indonesia – Sulawesi Selatan.

Nah, begitulah perjalanan si Ardi mencari dan berjuang untuk mendapatkan istri. Sampai sekarang gue nggak tau apa masih PDKT-an sama tuh cewek. Atau apakah gagal juga, ataukah ada pilihan lagi. Gue mah nggak tau juga sekarang. Maklumlah orangnya super sibuk.

********Belum Tamat********

Jadi, hadirin sidang pendengar acara curhat yang saya muliakan, setelah membaca dan merenungkan hasil curhat saya di atas, maka kesimpulan yang kita dapatkan dari acara curhat kali ini adalah?

Tidak Ada, iya tidak ada. memang kesimpulannya nggak ada.

Saya malah berpikir setelah melewati perjalanan panjang tentang mencari arti kawin-kawinan dan Sudah terlalu banyak melihat di sekeliling tentang melangsungkan hubungan pernikahan sebagai sebuah keputusan yang kadang membuat kening mengkerut. Aslinya sih, saya malah agak khawatir tentang hidupku selanjutnya. Apakah saya akan merasakan apa yang dirasakan oleh mereka? Ataukah salah malah mendapatkan jodoh yang menurut gue secara terpaksa? dan ataukah mendapatkan jodoh yang sesuai dengan kriteria yang aku inginkan bahkan bisa membangun keluarga yang bahagia sakinah mawaddah warahmah.

Eaaaah Walaupun keadaannya masih samar-samar bukan berarti saya murung seterusnya kan? Saya hanya mempersiapkan diri menghadapi kenyataan selanjutnya.

Saya malah Khawatir kalau besok ternyata saya memutuskan menikah juga karena alasan yang rasional bukan karena perasaan cinta atau perasaan sayang. Rasanya agak gimanaaa gitu yah, menikahi seseorang gadis tanpa didahului oleh roman naksir-naksiran gitu, kok menurutku rasanya agak kurang greget ya.

Walaupun keinginanku menikahi seorang gadis dengan didahului kata “aku tresno korokoe”. Baik yang aku katakan sendiri atau malah gue yang ditembak sama dia. Ya dua-duanya itu sih keinginan gue.

Gue sih sekarang lagi berpikir, sekarang pasangan hidupku seperti apa yah? Dia lagi ngapain sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia juga lagi memikirkan saya dan merindukanku?.

Yaaaah, Walaupun begitu tetap saja gue pasrah dengan takdir Tuhan nanti.

********Selesai********


Jika Anda Ingin Curhat Atau Punya Tulisan Yang Menarik Untuk Di Publish Di Website Ini, Silahkan Kirim Ke boys.madil@gmail.com

14 Responses to "Jangan Nikah Kalau Umur Sudah Nanggung - Ini Curhatan Gue"

  1. ardi sudah mapan yah kak?.
    Ardi itu orang palopo kah. boleh minta alamatnya :D

    BalasHapus
  2. yang nulis curhat ini menyentuh banget. sabar y Mr M. aku dukung

    BalasHapus
  3. Kenalin dong sama cahyani

    BalasHapus
  4. Mr. M cintanya dihianatin :v

    BalasHapus
  5. lama juga pacarannya Mr. M
    ini tipe-tipe cowok setia nih. gue mau dong jadi yang kedua sekarang buaT Mr. M.
    Bdw Mr. M nama sebetulnya siapa yah

    BalasHapus
  6. Hy mardiah
    aku jg cowok setia lo.
    mau kenalan denganku? :D

    BalasHapus
  7. pasti cahyani orangnya cantik

    BalasHapus
  8. nah tuh bahri ngaku-ngaku cowok setia :v

    BalasHapus
  9. yang bener aja? pacaran baik2y? pacarnya sholeha y?
    ingat, yg sholeha gk pacaran vroh

    BalasHapus
    Balasan
    1. tembakan yang keras buat semuanya.

      Hapus
  10. jadi apa solusi buat yg umurnya sudah nanggung? karena kata orang2 "dari pada nanggung mending gak usah"

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanya si mbah di rumah saja. :D

      Hapus