Seragam Lusuh Membawaku ke Singapura


Halo sahabat kitaberbagi.info, admin akan membagikan sebuah cerpen yang di tulis oleh salah satu siswa admin. Siswa admin ini namanya Najwa Latief. Salah satu bimbingan admin yang paling cerewet dan suka nulis. Nah, hari inin admin akan membagikan cerpen yang telah di tulis oleh Najwa dan di revisi kembali admin. Cerpen pernah di ikut sertakan dalam lomba menulis cerpen tingkat Palopo. Bagaimana isi cerita dari cerpen ini?? Yuk silahkan di baca :)

Seragam Lusuh membawaku ke Singapura

Tulisan Oleh: Najwa Latief

Editor : Husna

Ayla Nurul Fatimah, siapa yang tidak mengenal nama itu. Perempuan bertubuh mungil dengan suara agak cempreng, kulit sawo matang, rambut lurus dengan belah tengah yang menjadi ciri khasnya. Bukan dari situ mereka mengenal sosokku, masyarakat sekitar rumahku mengenalku karena seragam yang kugunakan tidak pernah diganti selama 8 tahun. Mereka memanggilku dengan sebutan “Gadis Lusuh”. Namun, julukan itu cukup membuatku bangga dan sedikit mengangkat derajatku, setidaknya aku terkenal meskipun aku bukan artis.

Suara dentingan jam tua yang bertalu-talu di ruang tamu dan alunan rintik hujan tidak membuatku berhenti memainkan benang-benang pintal dalam alat tenunnya. Aku terus asyik mengayunkan kaki dan tangan mungilku. Telah lima jam aku berada di tempat itu tanpa beranjak sedikit pun. Aku senang sekali menggunakan daster berwarna biru atau hijau. Aku merupakan putri satu-satunya dari pasangan Bu Nur dan Bapak Sodikin. Aku memiliki seorang abang yang kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta. Abang Ilham namanya. Abangku masih ada di Jakarta. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat kenaikan kelas 7. Aku merupakan gadis kecil yang lincah dan riang. Aku kini bersekolah di SMP 1 Palopo. Aku sangat di sukai oleh guru-guruku di sekolah. Aku sangat aktif dalam kegiatan OSIS dan Pramuka dan selalu menduduki peringkat lima besar. Hari ini aku membuat kain tenun yang akan ku gunakan dalam kegiatan FESTIVAL BUDAYA yang dilaksanakan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan. Tanggal 02 Mei nanti merupakan hari pendidikan Nasional dan juga hari yang menjadi saksi pertamaku yang memperkenalkan kain songket hasil tenunanku. Kain Songket merupakan kain tradisional bugis yang tidak asing lagi bagiku. Hidup dikeluarga yang penuh dengan budaya membuatku untuk lebih mudah menguasai budaya-budaya yang ada di daerah ku. Budaya di kota ini tenggelam dengan seiringnya perkembangan zaman yang semakin modern. Gaya hidup yang serba instan dan mengikuti kehidupan barat serta kecanggihan teknologi membuat masyarkat di kotaku membuat kain songket imitasi yang tidak berkualitas. Daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Religi yang istimewa ini masih begitu teracuhkan oleh Pemerintah Pusat. Kepiawaian dan keleluasanku untuk berbicara di depan orang banyak akan menjadi awal bangkitnya Budaya di kota kecil dan religius ini.

***

Lambaian rumput dan bunyi gemerisik angin menjadi saksi butaku. Semburat cahaya merah dari ufuk barat menghias cakrawala di kaki langit kota tua ini. Kota yang menjadi tempat kelahiranku, yang bangga dengan semboyannya “Palopo Beriman”. Kota yang dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu kota religius, kota adat dan kota bersih. Rumah panggung dengan balutan cat coklat kehitaman menemaniku bercengkram dengan alam pikirku. Hembusan semilir angin menggosok pikiranku seolah-olah membisikkan lantunan kata. Kata yang terangkai menjadi kalimat indah sebagai ungkapan rasa banggaku kepada sosok pria yang tidak pernah lelah membanting tulang dan yang selalu memberikan senyuman manisnya kepada aku dan abangku. Ayahku bekerja sebagai tukang kebun di istana kedatuan luwu. Mungkin bagi sebagian anak, mereka akan malu jika memiliki seorang ayah yang pekerjaanya sebagai tukang kebun. Namun, aku bangga terhadap ayahku. Karena pekerjaan inilah setiap harinya ayahku bisa berjumpa dengan datu luwu, para pejabat dan bahkan ayahku pernah berjumpa dengan Presiden SBY dan antek-anteknya serta pernah bertemu dengan beberapa artis papan atas. Bukan hanya itu, pekerjaan ayahku sangat menyenangkan. Setiap hari dia selalu merawat tanaman yang ada di pelataran istana luwu.
“Ayah, apakah ayah tidak bosan dengan pekerjaan sebagai tukang kebun” tanyaku suatu hari
Ayah hanya tersenyum. Dia mendekatiku dan mengusap kepalaku, lalu ia pun menjawab
“Anakku, jika ada manusia yang bosan dengan pekerjaannya, dia adalah manusia yang tidak pandai bersyukur. Ayah tidak pernah bosan dengan pekerjaan sebagai tukang kebun karena ayah mensyukurinya. Lihatlah apa yang ayah kerjakan “ jawab ayah sambil menunjuk ke arah pelataran istana luwu.
Nampak bunga-bunga berwarna warni bermekaran menghiasi halaman istana. Kolam yang bersih dengan bunga teratai menambah keasrian pelataran istana dan patung badik yang kokoh.
“Iya, ayah sekarang aku mengerti” jawabku.
‘Bagaimana sekolahmu Nak?” tanyanya lagi
“Alhamdulillah ayah menyenangkan, oh ya kemarin aku dan teman-teman habis mengikuti lomba Festival Budaya yang di adakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ayah tahu tidak, yang lolos ke tiga besar akan di ikutkan pada kegiatan Cultural Festival of Asia yang akan di adakan di Singapura, aku dan teman-teman berharap bisa lolos” jawabku dengan semangat
“Wah kamu sangat luar biasa Nak”
“Makasih Ayah”
“Seragam kamu, apakah masih bagus untuk di pakai?”
“Masih ayah, warnanya memang sedikit buram, tapi tenang saja Ayla bakal merendamnya dengan Byclin”
“Ha..ha... emang bisa putih ya kalau direndam pakai Byclin”
“Tentu dong ayah, iklan di TV kan begitu”
“Ha..ha.. ternyata anakku menjadi salah satu korban iklan”
Aku tertawa lepas mendengar jawaban ayah. Ayah pun tak mau kalah dia tertawa terpingkal-pingkal.

***

Ribuan peserta dari berbagai sekolah yang ada di Indonesia mengisi ruang audotorium yang ada di Hotel Plaza Jakarta. Aku dan teman-temanku duduk di bagian pojok sebelah kanan. Sekilas kuperhatikan penampilan peserta lainnya. Seragamnya putih bersih dan rapi. Tablet dan I-Phone sudah menjadi barang yang tidak pernah luput dari tangan mereka. Sepatu mereka hitam mengkilat. Dengan wajah yang sedikit nampak sedih, kuperhatikan penampilanku. Seragamku sudah tidak berwarna putih lagi dan tampak sedikit kumal. Ketika aku berjalan mendekati kursi di pojok, mata mereka menatapku dan mencibirku.
“Lihat nggak seragamnya anak itu, dekil yach “ kata seorang anak bermata sipit
“Bener tuch, anak desa kali... udah berapa lama ya seragamnya kagak diganti?” sela anak perempuan lainnya.
Mereka mencibirku tanpa henti. Putri, teman dekatku menenangkanku dan membalas tatapan mereka.
“Tenang Ayla, mereka itu hanya sirik aja sama kamu” kata Putri menenangkan
“Emang mereka sirik kenapa Put?” tanyaku sedikit keheranan
“Karena mereka nggak punya seragam liminited edition yang kayak kamu punya” jawab Putri
“Liminited Edition dari Hongkong, kamu itu ada-ada saja ya Put” kataku sambil tersenyum.
“Ah... gitu dong senyum, nggak manyun aja kayak tadi” lanjut Putri
Aku hanya tersenyum lalu beranjak pergi menyusul Pak Safar.
Acara pengumuman pemenang lomba Festival Budaya telah dimulai. Terlihat kak Anca pembawa acara tersebut tampil di depan podium dengan mengenakan stelan baju adat daerah Jakarta. Dia sangat tampan dan berwibawa. Sekilas aku melihat sosok pria jangkung berdiri tidak jauh dari podium. Pria jangkung itu mengenakan kemeja merah bata dan celana hitam serta topi hitam yang menghias kepalanya. Terlihat juga ID Card menggantung di lehernya dan kamera Canon tidak luput dari genggamannya. Pria jangkung itu lalu berjalan ke arahku. Semakin dekat pria itu ke arahku hatiku semakin tidak karuan. Jantungku berdebar kencang.
“Hai, sweetyku apa kabarmu”? sapa pria jangkung itu
“Abang Ilhaaaaammmmmm” aku berlari memeluk pria jangkung itu. Ternyata pria jangkung itu adalah abangku. Dia bekerja sebagai fotografer.
Abang Ilham memelukku erat dan mencium keningku. Dia sangat bangga melihatku dapat berkompetisi di ajang ini.
Setelah beberapa lama acara dimulai, akhirnya pengumuman pemenang lomba Festival Budaya akan segera di umumkan. Hatiku tidak karuan. Aku melafazkan doa begitu panjangnya, demikian juga teman-temanku yang lain dan peserta lainnya. Juara harapan 3 sampai harapan 1 telah di umumkan. Kini tinggal menunggu juara 1-3. Jantungku semakin berdebar kencang.
“Ya, Allah semoga aku bisa masuk ke 3 besar” pintaku
“Baiklah, sekarang tiba gilirannya saya akan mengumumkan pemenang ke 3 dari lomba Festival Budaya yaitu dari provinsi Aceh Darrusalam atas nama Teuku Hafids dan Cut Riska. Pemenang kedua berasal dari Jawa Tengah atas nama Ratna Singgih dan Abdi Mangestu. Tepuk tangan untuk mereka” kata Kak Anca sebagai pembawa acara
“Oke, juara 2 dan 3 telah kita tahu yach, nah siapakah juara pertama dari lomba ini? Siapa? Siapa” ya betul ini dia juara pertama kita dari provinsi Sulsel kota Palopo atas nama Nur Ayla Fatimah dan Alamsyah. Tepuk tangan... “ lanjut kak Anca
Masya Allah, aku sangat kaget mendengar namaku disebutkan sebagai juara pertama. Aku hampir tidak percaya. Maka dengan langkah sigap dan penuh percaya diri aku dan Alamsyah melangkah ke arah podium. Begitu senangnya aku, karena ternyata si Gadis Lusuh mampu memenangkan lomba bergengsi dan akan terbang ke Singapura sebagai wakil Indonesia di ajang Cultural Festival of Asia. Abang Ilham melambaikan tangan dan tersenyum padaku. Demikian juga Putri, Pak Safar, Jodhy, Josua dan teman-temanku lainnya mereka juga tersenyum padaku.

***

Akhirnya aku berangkat ke Singapura bersama dengan menteri kebudayaan. Abang Ilham dan kedua orang tuaku mengantarku sampai di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta. Rasa syukur tak pernah terlepas dari mulutku dan akan kupersembahkan kembali kemenangan ini lagi untuk mereka semua.


Jika Anda Ingin Curhat Atau Punya Tulisan Yang Menarik Untuk Di Publish Di Website Ini, Silahkan Kirim Ke boys.madil@gmail.com

0 Response to "Seragam Lusuh Membawaku ke Singapura"

Posting Komentar