Manisnya pun Ku Kecup...


Cerpen Bahas Indonesia - Manisnya pun Ku Kecup

September 2013
Manisnya pun Ku Kecup...

Ku raih gelar “Mahasiwa Teladan”

(Episode 1)

Setahun yang lalu tepat pada tahun 2014 bulan April, aku akhirnya bisa sampai tahap akhir kuliahku. Ya, aku hanya menempuh waktu kuliah hanya dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Semua ini ku peroleh bukan dengan jalan yang mudah, tetapi jalan yang begitu sulit. Banyak suka-duka yang kulalui.Perjuangan ini pun juga yang mempertemukanku lagi dengan seorang pria yang begitu luar biasa untukku, yang membuatku jatuh cinta dan pada akhirnya aku hanya bisa menyayanginya hanya sebagai seorang kakak sampai saat ini. Perjuangan ini pun juga mengajarkanku arti bersabar dan ikhlas. Inilah kisahku, kisah cinta dan perjuanganku yang ku tulis rapi dalam diariku.

Bunyi mesin air itu terus saja menderu terbatuk-batuk. Sedari pagi, penampungan air di kamar mandi kosong. Aku dan teman-teman lainnya harus terpaksa mengambil air di rumah pak Sekdes untuk keperluan dapur, sedangkan untuk keperluan mencuci pakaian dan mandi kami pun harus rela menempuh jarak 1 km menuju sungai besar di bawah kaki gunung desa Patoloan.
“Anjas...Rohman bangun kalian, bantuin Mastang angkat air dong” teriak Essy sambil menggedor-gedor pintu kamar anak laki-laki.
“Sudah Es, percuma menyuruh mereka, apa lagi Anjas...mana mungkin dia mau angkat air, entar tangannya lecet” kata Jum
“Dasar, kordes makuttu1” umpat Essy
Aku hanya diam melihat keributan di pagi buta itu. Aku sudah malas bertengkar dengan Anjas hampir setiap hari. Kordes yang tak bertanggung jawab hanya mementingkan diri sendiri. Aku terus asyik bercanda dengan Mba’ Ian sembari menggoreng ikan dan membuat sambal. Ya, hari ini giliran aku memasak. Di posko Patoloan hanya ada 4 orang yang pandai memasak yaitu Aku, Jum, Essy dan Putri.
“Wuiiiichhhh masak apa husna?” tanya Mastahang
“Masak ikan goreng sambal tomat sama sayur bening” jawabku sambil membolak balik ikan yang ku goreng
“Husna, bikinin kopi dong, dua ya..sama pak Korcam” pinta Mastahang
“Oh...Nyoman udah pulang dari Banyu Urip?” tanyaku
“Yupsss, lemas banget tuch dia, bikinin yach kalau bisa gorengin pisang juga” jawab Mastahang
“Siip dah..” balasku
Mastahang adalah teman satu poskoku yang paling akrab denganku. Dia mahasiswa dari prodi Teknik Informatika. Gaya bicaranya yang unik, tingkah lakunya yang unik dan tentunya hatinya yang begitu baik. Kami menggelarinya sebagai “Suami Bersama”. Ya, karena hanya dialah laki-laki yang betah di posko, yang selalu membantu para gadis jika kesusahan, tidak keberatan jika motornya harus dipinjam untuk kesana-kemari dan tidak menggerutu jika dimintai pertolongan. Ku siapkan segelas kopi susu untuk Nyoman dan segelas besar kopi hitam untuk Mastahang. Kemudian, kulanjutkan membersihkan kamar tidur dan teras belakang. Sambil bercanda dengan Jum, tiba-tiba ponsel mungilku bergetar, sebuah pesan singkat masuk. Pesan singkat yang membuatku hampir terjatuh ke dalam bak sampah. Pesan itu datang dari Dekan Fsains Ibu Nururrahma Hammado

“Husna, selamat kamu lolos ke Final Mahasiswa Teladan. Besok kamu ke Palopo ya untuk prsentase karya Ilmiah kamu di Kampus 1 Gedung E. Selamat belajar Anakku...”
Aku berteriak kegeringan, ku peluk dan kucium pipi Jum berkali-kali. Jum hanya keheranan melihatku sedemikian girangya. Aku berlari ke dalam rumah menelusuri ruang dapur dan kamar tengah sambil berteriak-teriak memanggil nama April dan Nyoman. April dan Nyoman menghampiriku sambil keheranan. Ku tunjukkan pesan singkat yang baru saja ku terima kepada mereka berdua. Mereka tersenyum dan mengucapkan selamat serta mengabarkan kepadaku bahwa mereka berdua juga lolos ke dalam babak Final Mahasiswa Teladan. Bertambah senanglah hatiku, mengetahui mereka berdua juga lolos. Malam ini kupersiapkan materi presentaseku dengan rapi tidak lupa juga kupersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja akan di tanyakan oleh Dewan Juri nanti. Pukul 01.00 dini hari, mataku baru bisa terpejam. Aku pun mengambil air wudhu dan siap untuk merebahkan tubuhku di kasur kumal. Oh ya, aku tidak tidur di kamar wanita. Semenjak Jum sering kesurupan, aku tidur di ruang televisi bersama Jum ditemani oleh Mastahang dan Fajar. Fajar adalah kordes desa Sidomukti, dia selalu datang ke poskoku. Kebetulan Essy adalah pacarnya dan aku adalah tetangganya di kampung bahkan sepupu lima kali. Belum sempat kupejamkan mata, Jum berteriak-teriak sambil menggeram meraih tanganku dengan cepat.
“Wah Jum kesurupan lagi ini” pikirku

“Akkhhhhhhh.... pergi ko semua...akhhhh jangan ko disini” teriak Jum sambil terus menggeram
“Jum, sadar.... Jum.... bangun....” kataku panik.
Ku tendang pantat Mastahang dengan keras agar dia terbangun. Mastahang kaget dan duduk seperti orang bertapa. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Beberapa saat dia hanya terdiam tanpa reaksi.
“Mungkinkah kesurupan juga ni orang” pikirku
“Mastahaaaaaaaaaaaaanggggggggggggg.....” teriakku.
Mastahang terkesiap seketika, dan mengambil air putih kemudian mulutnya komat-kamit tidak jelas. Kemudia diaberkumur-kumur dan menyemprotkan ke wajah Jum. Bukannya mereda, Jum semakin menjadi-jadi. Pak Sholeh bangun dan membangunkan penghuni posko lainnya. Pak Sholeh mulai membacakan ayat kursi dan aku, aku terus memegangi Jum sekuat tenagaku. Sebenarnya tanganku sangat sakit, cengkraman Jum begitu kuat, membuat nadiku hampir tak berdenyut. Untunglah malaikat maut belum mau mencabut nyawaku. Akhirnya Jum tertidur lemas di pangkuanku, mungkinkah roh yang merasukinya telah pergi?

Sekitar pukul 06.00 aku, April dan Nyoman telah bersiap-siap. Kami bertiga akan kembali ke Palopo untuk mengikuti babak Final Mahasiswa Teladan. Sepanjang perjalanan tak ada satu kata pun yang terucap dari kami bertiga. April disibukkan dengan makalahnya, Nyoman asyik membuka-buka BBM-annya sedang aku, aku hanya memandangi langit di luar sana. Menghitung arak-arakan awan putih yang bergelayut. Akhirnya aku tertidur di pundak Nyoman.
“Husna, bangun udah nyampe” kata Nyoman sambil membangunkanku.
Sambil menggeliat ku kucek-kucek kedua mataku dan mengambil botol air minum kemudian ku basuh wajahku. Seketika kuperhatikan penampilanku. Membolak-balikkan badan, dan menata raut muka. Ku tuju aula Gedung E di samping rektorat. Ternyata sudah banyak peserta yang berkumpul. Seingatku sekitar ada 10 peserta. Salah satunya adalah Nirvan, ketua BEM Universitas Cokroaminoto Palopo. Dia menghampiriku sambil tersenyum.
“Apa kabar ibu SekMen? Tidak ku sangka ternyata kamu masuk juga ke babak final ini” kata Nirvan
“Ya, aku juga tidak menyangka bisa masuk ke babak ini” balasku
“Oh, ya bagaimana program kerja BEM, maaf aku tidak sempat hadir dalam Proker BEM selama beberapa minggu ini” kataku sembari menunjukkan rasa penyesalan
“oh tidak apa-apa kawan, saya maklumi jika kamu nggak bisa hadir, kamu kan lagi KKN...yang penting adalah kerja nyatanya bu Sekmen” balas Nirvan
Aku tersenyum manis kepadanya, Ia pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis. Bapak Nirsal, Ketua Prodi Teknik Informatika terlihat memasuki ruangan. Dia mengambil alih ruangan dan meminta kami untuk duduk. Acara pembukaan Final Mahasiswa Teladan pun di mulai. Di ruangan itu nampak beberapa Dewan Juri, di antaranya pak Ilyas, Rektor, Wakil Rektor dan Ketua Senat dan beberapa Dekan. Jantungku berdegup kencang tak terkendali. Ku tatap jam dinding dan ku perhatikan sekelilingku. Tak ada yang memperhatikan acara pembukaan itu. Mereka sibuk dengan makalah yang mereka pegang. Berkomat-kamit tidak jelas. Entah apa yang mereka ucapkan, menghapalkah atau sedang memanjatkan doa yang begitu panjang. Aku pun disibukkan dengan pikiranku sendiri. Ku raih secarik kertas dan ku tulis poin-poin yang ingin aku sampaikan.
“Setiap peserta akan memasuki ruangan ini secara bergantian, waktu yang diberikan untuk presentase adalah 7-10 menit dan selanjutnya adalah sesi tanya jawab antara peserta dan dewan juri. Kriteria penilainnya adalah tampilan slide, gaya presentase, waktu presentase, jawaban dan lamanya tanya jawab, silahkan masing-masing peserta mengambil no urut” jelas Pak Nirsal


Jika Anda Ingin Curhat Atau Punya Tulisan Yang Menarik Untuk Di Publish Di Website Ini, Silahkan Kirim Ke boys.madil@gmail.com

10 Responses to "Manisnya pun Ku Kecup..."

  1. cerpennya menggugahku untuk tetap semangat meraih mimpi jadi mahasiswa terbaik. :)
    nice sangat bagus.

    BalasHapus
  2. Terima kasih friska... semoga friska jadi mahasiswa terbaik aamiin

    BalasHapus
  3. cerpennya bagus nih. kapan buat cerpen selanjutnya.

    BalasHapus
  4. doakan sy juga semoga jadi mahasiswa teladan seperti orang yg ada dalam cerita ini.

    BalasHapus
  5. Aamiin... Insha Allah saudara

    BalasHapus
  6. sementara ditulis saudara, he..he..cuma curi2 waktu ni tulis cerpen, habis kerjaan kantor numpuk

    BalasHapus
  7. cerpennya bagus. berbakat.

    BalasHapus